Welcome to Silent Hill : Sendai…

DSC_0306(Berdiri di kereta super cepat, Shinkansen)

Shinkansen dengan cepat melaju menuju kota Sendai. Ya, hanya 1 jam 40 menit yang dibutuhkan kereta super cepat ini untuk menggapai Sendai.
Saya, bersama Sahdan dan Hendra menunggu tenang di dalam kereta super cepat itu sambil sesekali menilik ke luar jendela, menyaksikan satu persatu pohon sakura yang mulai mengeluarkan warnanya.

Itulah yang membuat saya sadar bahwa saya sudah di Jepang. Pohon Sakura–ya–pohon Sakura yang sesekali terbersit berwarna pink pucat hingga pink cerah.

Walau ini disebut kereta super cepat, tapi entah mengapa saya nggak ngerasa “GILE CEPET BANGET”-kind of feeling. Ya, cepet aja sih (meremehkan Shinkansen).

Bersama dua orang yang kami jumpai di bandara, yang juga dalam beasiswa Monbusho yakni Vo Cong Hoang dari Vietnam dan Shahidul Islam dari Bangladesh, kami pun dengan sabar menunggu di dalam Shinkansen sampai akhirnya kereta itu pun berhenti.

Dengan bawaan yang berat ini, kami pun keluar segera dari sana–dengan cepat mencari orang yang akan mengantar kami ke asrama.

Di stasiun Sendai, suasana hiruk pikuk–dengan tipe stasiun modern ala Jepang kami pun sempat dibuat bingung mencari dimana gerbang keluar. Sendai ya, inilah Sendai

Begitu kami keluar dari pintu tiket (yang menelan tiket-tiket kami, padahal pengen disimpen dijadiin kenang-kenangan), kami pun disodorkan oleh indahnya lukisan kaca yang menjadi ikon Stasiun Sendai.

6404661879_86c1535136_z

Ternyata, dua orang wanita paruh baya memanggil-manggil kami. Ya, mereka adalah ibu-ibu dari volunteer group Mori Group. Dengan bahasa Inggris mereka yang beraksen Jepang, kami pun di antar keluar dari stasiun, ke basemen, tempat di mana taksi khusun telah menunggu kami…. dan hujan… hujan… hujan

Sendai hari itu tengah di anugrahi hujan. Cuaca cukup dingin, saya yakin itu berkisar 10-11 derajat. Sebenarnya, saya lebih mengharapkan cuaca yang cerah, sambutan hangat tapi tidak. Semua terasa kelam, mendung, entah apa yang akan menunggu kami.

Sejak perjalanan dari Tokyo, kami pun sudah diberikan hujan rintik di sana yang menyambut kita begitu keluar dari pesawat. Sepanjang perjalanan Shinkansen, yang menyodorkan pemandangan gedung-gedung–yang sejujurnya membuat saya rindu akan bumi Priangan yang hijau–saya berharap bahwa Sendai akan cerah tetapi tidak.

Saya pun berbalik ke belakang sebentar, menyaksikan tulisan SENDAI STATION yang megah、diiringi di bawahanya dengan deretan advertisement, dan arsitektur serba coklat muda di depan stasiun yang cukup unik dan membingungkan itu.

DSC_0310

Kami pun masuk kedalam taksi besar itu, cukup untuk menampung kami semua 1 wanita dari Mori Group itu tetap tinggal, menunggu penerima Monbusho lainnya untuk datang, sedangkan kami berlima bersama ibu-ibu dari Mori Group lainnya (juga pak supir) berangkat menuju tempat tinggal kami.

Seperti biasa, obrolan tentang cuaca, berapa lama perjalanan pesawat, seberapa jauh kemampuan bahasa Jepang pun menghiasi obrolan dalam taksi itu. Namun, saya masih terperangah akan semua kanji yang menyoroti kita dari gedung-gedung besar dekat stasiun yang seiring berjalannya waktu berganti menjadi rumah-rumah biasa dan tanjakan-tanjakan khas kota Sendai, juga jalanan yang kian sempit dan bersih. Ya, jujur ini nampak seperti kota yang sepi, tidak bising–bahkan terlalu sunyi bagi saya.

Saya sejujurnya merasa ada sesuatu yang kurang… sesuatu yang aneh, seolah ini bukan Jepang yang saya inginkan. Mendung, dingin… tak ada pepohonan hijau yang biasa saya nikmati di kota Bandung… tak ada Sakura, tak ada apapun. Mori no Miyako–kota pepohonan–itulah sebutan kota Sendai yang saya tahu sebelum saya tiba disini, ya kota dengan PEPOHONAN MATI. Sendai ternyata masih berada di penghujung musim dingin.

Kami pun mulai menaiki beberapa tanjakan, memasuki gerbang tua sekitar 6 meter, dan memasuki arena yang nampak damai. Kami pun berhenti, masih dengan hujan rintik sambil sesekali saya memeluk diri saya sendiri–agak merasa tak nyaman dengan penghangat yang ada di taksi itu. Kami hampir tiba di International House Sanjo I dan ya, hujan mulai berhenti, berganti menjadi titik-titik hujan yang asing bagi saya.

Dan ya, kalian pasti tak percaya yang akan saya katakan setelah ini.

Saat itu, bagi saya…. suasana tak lain seperti layaknya film/game Silent Hill (silahkan saksikan link youtube tersebut di sekitar menit 00.52).

large(Kira-kira perasaannya seperti pada gambar….)

Keluar dari mobil, waktu masih menunjukkan sekitar pukul 12 namun sama sekali tidak cerah… seperti layaknya 1-2 jam menjelang matahari tenggelam.

Langit kelabu nyaris putih dan di depan International House, tumbuh sejumlah pohon-pohon tua dengan daun-daun coklat sangat pucat… masih dalam waktu hibernasinya. Di ujung lainnya saya hampir menyaksikan kabut.

Dan bukan hanya itu, tempat itu, ya tempat tinggal kami, International House Sanjo, berada di tengah komplek perkuburan terbesar di Sendai. Burung-burung gagak terdengar berkoar di angkasa, entah dari mana asalnya. Dan ya, saat burung-burung itu nampak, sesungguhnya itu salah satu shocking moment bagi saya. Burung-burung hitam pekat terbesar yang pernah saya lihat terbang hilir mudik di daerah perkuburan itu. Besar ya, itu terlalu besar bagi saya dan nampak berbahaya, dengan bata hitam legam dan paruh panjang yang siap menerkam apapun (bahkan saya pernah melihat salah satu gagak tersebut menerkam seekor katak dengan paruhnya). Batu-batu nisan ala Jepang yang tinggi berwarna hitam hingga abu-abu tua dengan dingin berdiri di sana, basah oleh rintik dedaunan,  dari seberang sana menyambut kami mahasiswa Internasional .

Hampir saya kira saya berada di film Silent Hill. Nyaris terbentuk kabut tipis dan sama sekali bukan sambutan terhangat yang diharapkan.

Kami pun masuk ke lobi Interasional House, dengan suasana remang yang hanya dibantu oleh sinar lemah langit putih di luar.

Kami pun di bantu mengisi beberapa hal dan akhirnya kami mulai di antar ke kamar masing-masing. Hoang dan Shahidul harus berpisah karena mereka akan tinggal di family area (mereka sudah berkeluarga), begitu juga Sahdan yang harus tinggal di tempat lain karena alasan professor.

Tinggal kami berdua dan seorang keturunan Vietnam berkewarganegaraan Amerika, David.

Ada dua gedung utama di sana—geduang A dan D. Lobi berada di gedung A dan kedua gedung itu dihubungi oleh semacam jembatan (di lantai 2), dihiasi oleh jendela-jendela.   Kami pun menyeberangi jembatan itu sambil sesekali melihat ke sekitar, mengenal suasana baru yang asing. Mungkinkah ini bagian awal dari game horror?

Dan, kamar saya berada di lantai 2, tak jauh dari jembatan itu dan ya, 204 menjadi tempat tinggal saya. Kamar ini tua, ya gedung ini sudah berdiri hampir 30 tahun dan sesungguhnya saya tidak berekspektasi lebih. Di ujung kamar, telepon model lama–mungkin model 15 tahun yang lalu, mirip dengan telepon yang saya miliki saat kelas 1 SD, bertengger di sana, dan dapat digunakan untuk berkomunikasi di kedua gedung tanpa dikenai biaya–mirip seperti di hotel-hotel.

Saya pun melihat kembali dokumen kamar yang diberikan pada saya. Ya, D 204, ujar saya dalam hati, sambil memperhatikan pengenalan bagian kamar oleh bagian kantor yang sejujurnya tak begitu saya perhatikan.

DSC_0368

Untungnya, kamar yang akan saya tempati cukup nyaman bagi saya (tidak untuk beberapa mahasiswa Internasional lain, terlebih untuk Jun dari Korea yang menemukan sejumlah kecoak di kamarnya hingga ia harus berganti kamar).

Setelah beristirahat sejenak di kamar, kami pun diminta kembali ke lobi untuk bertemu dengan bagian bahasa.

Di sana, di lobi yang bermandikan cahaya langit mendung, Satou-sensei dan Soejima-sensei menunggu kami, memberikan beberapa dokumen (lagi). Sepertinya, game horror ini akan benar-benar di mulai. Saya merasa cukup terganggu dengan suara gagak di luar–suara itu benar-benar membuat saya merasa berada di dunia lain. Shahidul dan Hoang tiba dan kami berenam-saya, Hendra, Hoang, Shahidul, Soejima-sensei, dan Satou sensei duduk di sofi lobi yang rendah, membentuk lingkaran kecil, melingkari meja kayu berbentuk oval.

Pengarahan itu tak berlangsung hangat, kedua sensei ini memang tipe yang agak serius sehingga kami hanya menerima penjelasan dan menerima dokumen. Beberapa hari kedepan, kami akan dipandu oleh Mori Group untuk mengatur masalah administrasi di kota Sendai. Dan ya, jam 5 sore nanti, kami pun diminta untuk berkumpul bersama mahasiswa asing lainnya untuk pengarahan membuat akun bank.

Kedua sensei itu pun memberikan kami masing masing iPod yang telah berisi materi listening dari buku yang akan kami pelajari nanti. Mereka pun mengingatkan tentang placement test yang akan kami hadapi nanti. Saya benar-benar tidak ingin berada di kelas pemula. Saya berharap bisa di level menengah walau saya tak begitu yakin pada diri saya sendiri.

Kami pun menunggu sampai jam 5.  Ketika waktu menunjukkan pukul lima, ternyata cukup banyak mahasiswa internasional yang sudah berkumpul di sana. Langit sudah gelap, ya sudah saya duga dan suara gagak sudah sirna, tak lagi terdengar. Sejumlah orang Amerika dan Eropa sudah ada di sana–sama sekali tak membuat saya merasa ada di Jepang. Hampir 15 orang dengan ras berbeda berkumpul di lobi dan kami pun digiring menuju meeting room untuk mengisi formulir berkenaan dengan bank dan membayar 1000 untuk kartu bis (yang esok harinya akan digunakan berkeliling-keliling kota Sendai). Kami pun mengisi bersamaan. Cukup bising dan tak boleh ada kesalahan.

Selesai itu, kami pun kembali ke kamar masing-masing. Saya tak tahu harus berbuat apa tapi ya, saya sempat mendapatkan sinyal wifi di kamar saya dari suatu provider wifi, yang hanya bisa digunakan untuk google dan Gmail, cukup bagi saya mengirim email ke orang tua dan professor.

Malam sudah semakin larut, saya pun berencana untuk keluar mencari makan yang pada saat yang sama bertemu dengan Kevin, David, dan Clint–mereka dari California dan kami pun meminta bergabung dan kami pun berjalan di dinginnya malam Sendai tanpa tahu arah. Kami pun berjalan menuju minimarket–atau akrab disebut konbini. Di sana, saya memutuskan untuk membeli pisang–karena khawatir akan halal haramnya barang-barang di sini.

Di pertengahan jalan, kami bertemu dengan Mattia dari Italia yang seketika memimpin geng ini. Kami pun tiba di suatu kedai Ramen dan memutuskan untuk makan. Sejujurnya, saya sangat khawatir akan halal haram dan meminta untuk ramen dengan ikan yang dibuatkan khusus. Saya pun tak yakin akan halalnya sup ramen itu tapi ya sudahlah.

Mattia dengan lancar memulai percakapan dan saya, tak banyak bicara di sana. Pesanan saya yang terakhir datang dan ya, hanya berisi sayur (kol) dan ikan–tidak begitu sesuai dengan selera saya.

Setelah obrolan panjang (yang pada akhirnya saya tidak bisa menghabisi ramen saya karena terlalu banyak sayur), kami pun pergi dan kembali ke kamar masing-masing. Saya tak terlalu menikmati malam itu karena terasa suasana agak canggung bagi saya–mungkinkah karena saya ini orang Asia?

Tak lama saya pun kembali ke kamar dan berhasil mengirim email ke orang tua saya sebagai berikut.

Samy sampai ke Tokyo sekitar jam 6 waktu setempat. Jadwalnya sangat pdt karena harus kejar2an kereta yang jadwalnya ontime dan gak boleh telat. Sampai di Sendai jam 1.30 siang dan jadwal masih padat karena harus mengurus macam2. Besok juga jadwal masih padat karena harus ngurus akun bank dan siap2 language program. Ini dapet wifi jalanan yang gratisan jadi gak bisa telepon. Alhamdulillah sudah dapat kamar yang nyaman. Sangat dingin tapi polusi rendah. Malam ini makan mie ramen sama teman2 dari California dan Itali (minta yang pake daging ikan soalnya yang lain pake pork), insya allah halal walau agak mahal bayarnya. Jadwal solat dan kiblat masih kacau jadi cuma ngeliat acuan matahari aja dan sering di jama. Mudah2an besok diberi kelancaran karena banyak form yang harus diisi dan disubmit ke kantor2. Doakan biar samy lancar di sini.

Dan ya, saya pun membuka koper saya dan menghabiskan sisa malam itu dengan memeriksa seisi kamar dan mulai mengeluarkan barang-barang dari koper.

Ya, saya pun membaringkan diri di kasur dengan bantal yang berisi granul-granul aneh (yang tak terlalu nyaman) dan futon sewaan.

2 April 2013–hari pertama di Sendai– bagaikan di Silent Hill. Pada saat itu pula, saya mulai merasa tidak akan menulis blog lagi karena ini tidak seindah yang saya duga… tapi ternyata, permainan saya belum di mulai… ya, ini hanya hari pertama.

Selamat datang di Silent–bukan Sendai.

About Samy

A master student of Division of Mathematics, Graduate School of Information Science, Tohoku University, Japan. Have this cheerful and wise personality; but can be a boring nerd sometimes. Love learning languages, "designing" books, reading, doing math, cooking, and breeding hamster. Feel free to contact me here : samy.baladram[at]facebook.com

Posted on January 20, 2014, in Japan, Here I come!, Monbukagakusho 2013. Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. keren banget Silent, eh, Sendai.. hehe

  2. Semangaaaat :D!! Game-nya belum selesai…itu hanya bagian kecil jepang! ditunggu episode jalan-jalannya ya..!!

  3. Sebagai salah satu peng-kepo blog ini (soale ceritanya detil banget sih, jadi enak bacanya hehe) sempet agak kecewa karena menunggu2 cerita di Jepang yang tak kunjung muncul. Akhirnya muncul jugaaaaa :)) ditunggu cerita2 lainnya tentang kehidupan di Jepang ya Kak😀

  4. Err ternyata sudah setahun lebih ya ini.. Dan saya baru tau ada tulisan baru (dulu ngikutin pas masa2 seleksi beasiswanya) hehe. Keep writing and sharing yah Kak
    \(^_^)9

  1. Pingback: Goodbye, Indonesia![Beasiswa Monbukagakusho 2013] | Math and Adventure :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: