[Beasiswa Monbukagakusho 2013] Bukan diriku lagi

Well, mungkin judulnya agak aneh ya, beasiswa monbusho tapi kok belakangnya “bukan diriku lagi”. Sekarang, udah ampir 2 taun setelah tiba di Jepang. Mungkin ada yg bertanya-tanya, kenapa kok gak posting tentang kehidupan di Jepang, foto-foto jalan-jalannya, dan lain sebagainya.

Sejujurnya, saya gak posting itu karena gak berani ngomongin hal-hal yang… gak genuine. Maksudnya? Well, tentunya, yang namanya baru sampai ke Jepang 2 tahun yang lalu itu, banyak hal-hal baru yang pastinya bikin culture shock dan lain-lain–tapi bukan hanya itu. Pertama kalinya jauh dari orang tua dan masuk di “lingkaran” yang baru bukan hal yang mudah buat saya. Berada di asrama dengan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia itu semakin mengacak-ngacak jiwa dan ke”waras”an–tentunya ya, karena sudah sampai di sini, mau gak mau harus memasang wajah bahagia dengan semua orang yg tau keberadaan saya di sini.

Bayangkan aja, saya yang selama hidup dibesarkan dengan ajaran dan norma Islam serta tinggal di tempat yang baik-baik, harus mendengar kegiatan asusila pria Jerman bertato dari kamar sebelah, melihat dari lubang intip kamar “teman-teman” yang lagi minum-minum tepat di depan kamar, diajak ke bar, didatangin teman yang lagi mabuk subuh-subuh, menemukan buku “daftar wanita panggilan” di sofa depan kamar dan tumpukan tinggi cd film biru yang diletakkan begitu saja dekat lobi asrama.

Di sini, saya gak bisa nulis tentang indahnya tinggal di Jepang–saya coba 1-2 kali, itu pun saya “paksa” diri saya buat nulis hal tersebut. Terlalu banyak hal-hal yang “mengisi” dan “mengotori” pikiran, banyaknya kisah persahabatan, kebencian, kesedihan, perpisahan, keputusasaan, kegundahan yang saya malu ungkapkan dan saya rasa tidak cocok dipaparkan bagi khalayak umum.

Mungkin, bukan bagian saya buat nulis indahnya pemandangan gunung fuji, lucunya mainan-mainan jepang, uniknya santapan ala jepang… mungkin itu bagian orang lain.

Yang ingin saya sampaikan di pos ini adalah bahwa ya, saya sangat bersyukur mendapatkan beasiswa Monbusho ini. Pada awalnya, saya berharap bahwa ini akan jadi pengalaman yang penuh dengan keindahan dan kebahagiaan–tapi ini lebih dari itu. Di sini, pertama kalinya saya merasa sangat down dan pertama kalinya saya merasa sangat excited–roller coaster perasaan yang lebih ekstrim dari di Indonesia. Tapi ya, saya bisa saja memilih jalur yang lebih aman–pergi pulang kampus dan belajar yang rajin. Tapi, tidak.

Setelah tiba di sini, saya memutuskan untuk mengambil jalan yang terjal–saya tahu bahwa saya harus mengambil jalan ini karena mungkin, ini satu-satunya kesempatan bagi saya untuk “berubah”.

Sebelum tiba di Jepang, saya mungkin bisa dikatakan sebagai seorang yang “introvert”. Well, mungkin “introvert” yang kadang terlalu excited. Dan, ya, setelah tiba di sini… semuanya berubah. Saya bukan saya yang dulu lagi. Saya, kadang bisa jadi si “super extrovert”.

Setelah di sini, saya nggak serajin ketika ada di Indonesia–saya bisa ngerasain hal itu karena cuaca dan temperatur yang ada di sini bisa dibilang gak terlalu mensupport untuk terus bisa belajar, gak kaya di Indonesia (terutama Bandung) yang cuacanya selalu nyaman sepanjang taun.

Setelah di sini, saya jadi sering keluar malam. Ketika di Indonesia, hampir gak mungkin saya bisa keluar malam buat “having fun”–memang tidak ada niatan juga, gak ada temen yang bisa dikunjungin juga malem-malem. Dan ketika di sini, gak jarang ada yang ngetok kamar di atas jam 9 malam, cuma buat ngobrol doang–ya ngobrol doang. Mungkin itu kedengerannya kaya hal yang sepele, ini orang ngapain dateng malem-malem. Kadang, saya juga yang ngunjungin mereka malem-malem, kadang sampai di atas jam 12. Mungkin ya, saya jadi “anak nakal” sekarang.

Setelah di sini, saya jadi sering dateng ke party-party di mana orang-orang suka minum-minum. Well, ya tentunya, saya sih gak minum-minum.

Tapi, kenapa?

Prinsip belajar, belajar, dan belajar yang dulu saya sering lakukan malah ngebuat saya jauh dari lingkungan–jadi agak kuper mungkin ya, dan di sini, well saya mencoba untuk berubah.

Alhasil, saya memang bener-bener berubah, ketika di sini baru pertama kalinya saya ngerasain ada yang namanya “teman”. Mungkin buat kebanyakan orang, apa sih cuma “temen” doang. Tapi, baru kali ini saya ngerasain hal ini… buat saya ini gak pernah terjadi sejak temen-temen SD mungkin waktu masih jaman bocah n lugu banget. Jelas beda lah ya persahabatan jaman 2 SD sama perasahabat jaman S2.

Mungkin ya, bukan teman sejati atau gimana, tapi ini loh temen itu, yang dateng malem-malem cuma buat ngobrol, yang bisa jadi temen curhat masalah kampus dll, yang bisa diajak saingan baca kanji, yang bisa ngajarin macem-macem, yang bisa diajak jalan-jalan keliling kota, yang bisa bikin saya ketawa, yang jadiin saya orang pertama yang dia datengin ketika dia lagi mabok walau dia tau saya gak minum…

Dan ya, yang amazing lagi, mereka ini dateng dari tempat yang bener-bener diverse–ngerasain gimana bedanya kultur kita sama kultur mereka, cara pikir kita sama cara pikir mereka, dan sensitivitas kita sama sensitivitas mereka.

Entahlah, apa pilihan saya ini salah atau benar, walau semua kejadian–ratusan kejadian–yang saya alami selama dua taun ini secara psikis bikin saya jadi orang yang beda. Saya memilih pergaulan yang gak biasanya orang Indonesia pilih di sini tapi dengan tetap menjaga norma-norma. Saya, konsekuensinya, jadi males ngisi blog juga–malu sebenernya atas ekspektasi orang-orang akan “rajinnya research” atau “indahnya kehidupan negeri Sakura”. Saya paling gak bisa “nulis” yang gak setulus hati saya rasain… dan ya susah aja. Kalau saya ngerasa gak seneng banget atau excited, ya saya gak bisa tulis. Sekalinya excited juga, kontennya pun tidak layak buat umum sepertinya…

Dan ya, tapi tetep, saya mencoba buat ngejawab pertanyaan temen-temen tentang Monbusho (kalau lagi mood). Mungkin aja, ini juga postingan terakhir.

Dan, sebagai penutup, saya kasih foto beberapa orang (yang saya comot dari FB mereka) yang “berhasil” merubah hidup saya di Sendai, yang berhasil ngasih pelajaran penting buat saya, yang ngejadiin hidup saya lebih berwarna, dan kadang bikin saya sedih n kecewa juga… (dan yang pasti good-looking punya. Gak boleh naksir ya.)

 

Aku Hosio - Kanji Class IIIAku  (Finlandia)

CYMERA_20131104_111717Jaakko  (Finland)

1507560_368905469918395_2063535268_nThomas (Brazil)

6876_10201353378904602_557928629_nMarcel (Jerman)

1397644_535810516505446_385887938_oGabriel (Panama)

1517657_10151940716180897_1537782444_nDimitri (Yunani)

Attoyyib Muhsin - 今日は何度ですか?

Attayeb  (Libya)

Chia-chi Chang - Fudousan All-Day!

Chia-chi (Taiwan)

Guillaume Lacaille - Piano Practice

Guillaume (Perancis)

Halil Beglerovic - Selfish Team Barber

Halil (Bosnia-Herzegovina)

Jan Yaqub - Waiting...

Jan (Jerman)

Joonas Helotera - Welcome to International House

Joonas (Finlandia)

Ruslan Mammetseyidov - Turkish BreakfastRuslan (Turkmenistan)

10427315_761351727282839_7925889992040314800_nAndreas (Jerman)

1617842_687350621321123_29954244_oChristoph (Jerman)

10603900_10204230457497569_6907382023911499488_oAmine (Moroko)

11183350_10204152477308421_6972152830985227115_nMattias (Swedia)

1264260_692210294125406_669822416_oIsaac (Mexico)

1425392_10200862525188585_117837685_oTomáš (Ceko)

Hanami Yuliana - ゴミ

Hanami (Indonesia)Luis Fernando Abanto Leon - Expensive Bike

Luis (Peru)

Pritta Etriana Putri - Complain TogetherPritta (Indonesia)

10848917_10204543026089326_6545338001063010450_o

Kevin (USA, New Jersey)

775675_714257918627157_1164499537_o

Kelsey (USA, California)

10329691_1572038796343729_7987798621102594351_o

Niklas (Jerman)

10993102_931905753495021_8732676857002368384_nJenesis (USA, New York)

About Samy

A master student of Division of Mathematics, Graduate School of Information Science, Tohoku University, Japan. Have this cheerful and wise personality; but can be a boring nerd sometimes. Love learning languages, "designing" books, reading, doing math, cooking, and breeding hamster. Feel free to contact me here : samy.baladram[at]facebook.com

Posted on April 30, 2015, in Monbukagakusho 2013. Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. Terima kasih sekali lho, buat Mas Samy yg sdh memberikan detail ngurus monbu hingga tulisan yg sekarang ini. Sy diam2 nge stalk blog Mas Samy ini (hehe) dan sgt trbantu oleh smua hal yg dsampaikan d blog ini~

    Sy paham skali dgn pencarian “teman” di “dunia yg berbeda”. Memang sy masih sekolah di Indonesia, tapi sy mengalami “culture shock” ktika sy yg sblmnya skolah d sklh2 swasta nasrani kmdn mengambil s2 di PTN. Pnderitaan utk “melebur” dan mncari teman utk curhat itu trnyata lebih menyiksa drpd yg sy duga.. Serasa sy memiliki persona yg berbeda utk d luar dan d dlm rumah.

    Ternyta sy tdk kapok dgn pnderitaan ini, sy ngikut apply Monbu -_-” smoga Mas Samy bs ttp semangat dan ingatlah kmbali motivasi Mas Samy yg membuat Anda sampai berangkat k negeri Sakura. SEMANGAT MAS!!

  2. wow..
    ternyata apa yang ditulis orang-orang benar. lingkungan berpengaruh besar denan hidup kita..

    Berharap ini bukan postingan yang terakhir. karena benar-benar ingi melihat tulisan mas yang super lengkap dan detail lagi. hehehe

    oiy mas, itu kan dari segi pertemanan. bagaimana dengan biaya hidup dan beasiswa yang ditawarkan. sesuaikah untuk kehidupan mahasiswa ? mas, saya ada rencana study lanjut dan tertarik dengan beasiswa ini. boleh tau gak mas, universitas yang jurusan pendidikan (khususnya pendidikan fisika) yang bagus di univ mana ? tolong infonya yah mas..🙂

  3. akhirnya kaka nulis lagi.. hehehe.. jujur saya sebenernya nunggu banget update kaka tentang gimana sistem pendidikan s2 di sana dan selalu bertanya tanya apakah gerangan yang menyebabkan kaka jarang sekali nulis. dan finally kejawab sudah di posting ini.

    hm… saya selepas smp sudah jauh dari orang tua karena sekolah di luar kota dan saat itu saya juga pertama kali ngerasain shock culture. pokoknya hal hal yang belum pernah saya bayangkan bisa dilakukan anak umur 14/15 tahun saat itu saya lihat sendiri lewat teman teman saya yang sayangnya menyalah artikan kebebasan yang diberikan oleh orang tua mereka saat itu u bersekolah di di luar kota. tapi sepertinya memang culture shock yang kakak rasakan sampai membuat (sepertinya) kakak jadi berubah selama di Jepang gak ada apa apanya yah dibandingkan pengalaman saya waktu muda dulu itu (halah).

    terimakasih sudah menyempatkan diri untuk kembali menulis pengalamannya. semoga bisa diambil ibrah (pelajaran) dari seluruh pengalaman kakak yang udah kakak tulis di sini. saya yakin, apa yang kakak tulis bisa menjadi inspirasi dan pelajaran berharga bagi orang yang membacanya.

    dan terimakasih banyaaaaakkk banget kakak udah mau menjawab pertanyaan2 saya seputar monsho via fb dengan sabar hehe… alhamdulillah… saya sudah applied untuk research tahun depan. doakan saja semoga lancar. dan dengan tulisan kakak ini, bila nantinya saya lolos (amin) dan berhasil ke Jepang, saya bisa lebih mempersiapkan fisik dan mental saya (mental terutama nih..).

    Tetep semangat kak! jangan lupa selalu berdoa minta pertolongan Tuhan agar senantiasa selalu menjaga dan menguatkan kakak. karena ketika kita jauh dari orang orang terdekat, kita cuma bisa bergantung sama Tuhan.

    sukses selalu buat kakak!!!

  4. Jaakko.. bukan Jaakko Kortesharju kan, kang Samy?

  5. Ka, saya terharu deh baca postingan kaka yang ini. Kebetulan saya lagi mau ikut monbusho. Lagi cari-cari tutorial buat ngisi application form nya, eh ga nyangka bisa nyasar kesini. Nice share ka.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: